Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2012

Haruskah Kedokteran Modern Dan Thibbun Nabawi Dipertentangkan?

Bismillahirrahmanirrahim

Yang mendorong kami mengangkat tema ini adalah kami menemukan langsung beberapa orang yang salah paham mengenai pengobatan khususnya thibbun nabawi dan kedokteran barat modern. Kesalahpahaman tersebut berdampak timbul angapan bahwa kedokteran barat modern bertentangan semua dengan thibbun nabawi, sikap anti total terhadap pengobatan barat modern, kemudian jika memilih pengobatan selain thibbun nabawi berarti tidak cinta kepada sunnah serta dipertanyakan keislamannya. Padahal kedokteran barat modern bisa dikombinasikan dengan thibbun nabawi atau dipakai bersamaan. Dan juga ada beberapa tulisan-tulisan mengenai hal ini yang menyebar melalui dunia nyata dan dunia maya. Oleh karena itu, dengan mengharap petunjuk dari Allah Ta’ala kami mencoba mengangkat tema ini.

Contoh kesalahpahaman
Salah satunya yaitu mengangap bahwa jika sakit seseorang harus bahkan wajib berobat dengan thibbun nabawi, kemudian ditambah lagi dengan adanya anggapan yang kurang benar mengenai kedokteran modern misalnya,
- Berasal dari orang kafir
- Menggunakan bahan kimia yang HANYA berbahaya bagi tubuh
-Jika tidak menggunakan pengobatan nabawi berarti tidak memilih
pengobatan nabawi dan tidak mengikuti sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.
Berikut contoh yang kami temui langsung dengan adanya kesalahpahaman tersebut.

Contoh pertama
Seorang senior kami penuntut ilmu agama [sekarang beliau adalah pengasuh situs islam yang cukup terkenal], ia sudah terkena demam cukup tinggi selama tiga hari, di tambah batuk dan pilek. Tetapi beliau tidak mau mengkonsumsi obat-obat kimia dari kedokteran barat, apalagi konsultasi ke dokter. Beliau hanya mengkomsumsi madu dan habbatus sauda selama sakit, akan tetapi qaddarullah, Allah belum berkehendak memberikan kesembuhan kepadanya, kemudian ustadz kami menanyakan kepada beliau kenapa tidak periksa ke dokter. Saya [penulis] juga sempat berdiskusi dengan beliau, saya berkata, mengapa tidak dikombinasi saja pengobatannya minum obat kedokteran barat dengan minum  madu dan habbatus sauda. Karena demam tinggi jika tidak diobati akan berdampak cukup serius bagi tubuh. Dengan mengkonsumsi obat penurun panas sederhana seperti paracetamol maka demam tubuh bisa turun dan kondisi tubuh bisa lebih stabil untuk melakukan upaya peyembuhan sendiri melalui imunitas tubuh.

Contoh kedua
Ada seseorang yang berkata kepada saya [penulis] ketika membicarakan tentang diare, ia mengatakan jika seorang anak diare, tidak perlu dibawa ke dokter, cukup diberi campuran air minum plus madu maka diarenya bisa sembuh. Ia membuktikan bahwa anaknya sembuh dengan terapi tersebut. Kemudian ia berkata, jika di bawa ke dokter nanti malah di infus seperti anak temannya, anaknya kesakitan disuntik infus kemudian butuh biaya juga buat infus. Mengenai hal ini  saya ingin menjelaskan bahwa dalam ilmu kedokteran modern, anak diare dan mengalami dehidrasi tidak langsung  dipasang infus akan tetapi diterapi sesuai dengan tingkat dehidrasinya. Dalam kedokteran modern dehidrasi diare ada tiga derajat berdasarkan gejalanya:
1 . tanpa dehidrasi [kehilangan cairan <5% Berat badan]
2. dehidrasi sedang [kehilangan cairan 5-10% berat badan]
3. dehidrasi berat [kehilangan cairan >10% berat badan]
[lihat Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak hal. 50, IDAI, 2004]
Untuk terapinya, diare tanpa dehidrasi dan dehidrasi ringan sedang diterapi dengan cairan oral, yaitu diberi minum seperti biasa [jika masih bisa minum] dengan menggunakan ukuran tertentu khususnya setelah diare dan muntah. Dan terapi dengan air minum plus madu adalah terapi yang tepat dalam kasus ini.
Akan tetapi pada kasus dehidrasi berat pada anak, terlebih lagi jika anak muntah-muntah dan tidak bisa minum karena pengaruh penyakitnya maka jalan terakhir adalah penggantian cairan melalui infus. Karena dehidrasi berat pada anak cukup berbahaya jika dibiarkan lama, bisa menyebabkan kematian, terlebih lagi pada anak yang umurnya masih beberapa bulan.
Maka yang perlu kami sorot dalam kasus ini adalah, sikap anti total terhadap kedokteran barat modern dan seolah-olah kedokteran barat itu bertentangan semuanya dengan thibbun nabawi.

Memperbaiki kesalahpahaman
Kami mencoba memperbaiki kesalahpahaman tersebut.

1.      Kedokteran modern berasal dari barat
anggapan semakin kuat dengan orang barat yang notabenenya kafir pasti meinginkan kehancuran bagi umat islam dan ada makar ingin menggantikan pengobatan nabawi pada umat islam. Maka hal ini terlalu jauh berpikir ke arah sana.
Perlu diketahui bahwa kedokteran barat modern yang sekarang merupakan pegembangan dari kedokteran yang dahulunya dikembangkan dan ditemukan oleh orang Islam dan para tabib cendikiawan muslim yaitu disaat Islam
mencapai puncak kejayaannya dalam kemajuan ilmu pengetahuan seperti saat dinasti Abbasiyah. Tehnik pengobatan yang dikembangkan oleh tabib  cendikiawan muslim itu bahkan hampir dipakai di seluruh dunia. Dan banyak dokter dan tabib dari negara lain yang datang belajar kepada tabib muslim saat itu.
Kemudian di saat dinasti Abbasiyah runtuh, maka orang-orang kafir yang menggulingkan dinasti Abbasiyah mengambil semua ilmu dan menguasai perpustakaan sumber ilmu. Kemudian mereka orang-orang kafir berlomba-lomba mengklaim diri mereka dan mengumumkan kepada dunia bahwa mereka sebagai penemu teori dan ilmu pengetahuan di saat itu,
padahal tidak sedikit dari mereka yang hanya mencontoh total penemuan ilmu pengetahuan yang sudah ditemukan sebelumnya oleh cendikiawan muslim. Termasuk dalam hal ini ilmu kedokteran. Sehingga tidak benar sepenuhnya kedokteran barat adalah hasil usaha mereka dan berasal dari orang kafir barat.
Kita bisa membaca sejarah bagaimana tabib cendikiawan muslim dahulunya dengan kitab-kitab pedoman kedokteran karangan mereka dan buku-buku mereka bahkan ada yang menjadi pegangan kedokteran barat sampai saat ini. Sebutlah tabib muslim seperti Muhammad bin Zakaria Al-Razi di barat dikenal dengan Razes, ahli bedah Al-Zahrawi dikenal
dengan Abulcasis, Ibnu Rusdy atau Averroes, Ibnu El-Nafis, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dan masih banyak yang lainnya.
Kemudian walaupun pengembangan selanjutnya dilakukan oleh ilmuan barat yang notabenenya kafir, maka kita tidak semata-mata langsung berpikiran negatif dan tidak berlaku adil kepada mereka. Jika memang ilmu kedokteran tersebut bermanfaat dan benar maka kita perlu juga mempelajarinya dan bisa menggunakannya. Sebagaimana fasilitas saat ini
seperti mobil, kereta, pesawat dan alat-alat elektronik lainnya. Kita tetap harus adil dalam menyikapi hal ini. Allah  Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ
أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ.
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [Al-Mumtahah: 8]
Berkata Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’diy rahimahullah,
لا ينهاكم الله عن البر والصلة، والمكافأة بالمعروف، والقسط للمشركين،
من أقاربكم وغيرهم،حيث كانوا بحال لم ينتصبوا لقتالكم في الدين
والإخراج من دياركم، فليس عليكم جناح أن تصلوهم،
فإن صلتهم في هذه الحالة، لا محذور فيها ولا مفسدة
“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik, menyambung silaturrahmi, membalas kebaikan , berbuat adil kepada orang-orang musyrik, baik dari keluarga kalian dan orang lain. Selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan selama mereka tidak mengusir kalian dari negeri kalian, maka tidak mengapa kalian menjalin hubungan dengan mereka karena menjalin hubungan dengan mereka dalam keadaan seperti ini tidak terlarang dan tidak mengandung kerusakan.” [Taisir Karimir Rahmah hal. 819, Dar Ibnu Hazm, Beirut, cet. Ke-1, 1424 H]

2.      Menggunakan bahan kimia yang HANYA berbahaya bagi tubuh
Memang obat-obat kedokteran barat modern menggunakan bahan kimia. Tetapi bahan kimia yang digunakan sudah diteliti dan sudah diatur dosisnya agar sesuai dengan terapi yang diinginkan. Dan ini juga berlaku pada beberapa  obat-obat alami dan thibbun nabawi, jika dosis habbatus sauda berlebihan dikonsumsi maka akan berefek negatif bagi tubuh karena habbatus sauda mengandung bahan aktif seperti thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ),  thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY).
Dalam kedokteran barat modern dikenal ungkapan,
“ All substances are poison. There is none that is not poison, the
right dose and indication deferentiate a poison and a remedy”
“semua zat adalah [berpotensi menjadi] racun. Tidak ada yang tidak[berpotensi menjadi] racun. Dosis dan indikasi yang tepat membedakannya apakah ia racun atau obat”
[Toksikologi hal. 4, Bag Farmakologi dan Toksikologi UGM, 2006]
Oleh karena itu, kedokteran modern barat dalam teorinya tidak gegabah begitu saja dalam memberikan terapi  obat-obatan kimia. Tetapi sesuai dengan dosis dan indikasi pengobatan. Jika penyakit dibiarkan dan lebih berbahaya, maka lebih baik memkonsumsi obat bahan kimia yang walaupun juga asalnya berbahaya tetapi bisa menyembuhkan dengan dosis yang tepat. Begitu juga dengan operasi pembedahan, dilakukan sesuatu yang berbahaya bagi tubuh “merusaknya” dengan menyayat dan membelah, tetapi ini demi kesembuhan. Prinsip ini diajarkan dalam Islam seusai dengan kaidah fiqhiyah,
إذا تعارض ضرران دفع أخفهما
” Jika ada dua mudharat (bahaya) saling berhadapan maka di ambil yang paling ringan “
Dan jika kita kembali ke pengertian zat kimia, maka zat kimia itu ada yang alami dan ada yang buatan. Obat-obatan pada kedokteran modern juga ada yang menggunakan bahan kimia alami. Begitu juga dengan bahan thibbun nabawi seperti habbatus sauda juga mengandung zat kimia aktif seperti thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ),   thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY) yang merupakan zat aktif. Zat kimia aktif bisa lebih berbahaya jika mencapai dosis tertentu. Sehingga perlu juga dilakukan penelitian mengenai dosis dan indikasinya atau pengobatan
dengan habbatus sauda di lakukan oleh ahlinya yang tahu metode pengobatan dan berpengalaman. Kita percaya benar bahwa habbatus sauda adalah obat segala penyakit, tetapi orang yang meramu dan melakukan pengobatannya juga harus ahli. Sebagaimana pedang yang sangat tajam, tetapi untuk berfungsi dengan baik saat peperangan misalnya perlu tangan terlatih yang menggunakannya.

3.      Jika tidak menggunakan pengobatan nabawi berarti tidak memilih pengobatan nabawi dan tidak mengikuti sunnah
Ini adalah pandangan kaku sebagian kecil saudara kita, perlu diketahui hukum asal berobat adalah mubah karena ini adalah masalah dunia dan tidak berkaitan dengan ibadah. Sesuai dengan kaidah fiqhiyah,
الأصل في الأشياء الإباحة
“Hukum asal sesuatu [perkara dunia] adalah mubah”
Begitu juga dengan thibbun nabawi, akan tetapi jika bisa mendapat pahala jika melakukan thibbun nabawi atas dasar kecintaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena perkara mubah bisa menjadi sunnah, wajib, makruh atau haram sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Selaras dengan kaidah fiqhiyah,
الوسائل لها أحكام المقاصد
“hukum wasilah [perkara mubah] sesuai dengan hukum tujuan”
Oleh karena itu seseorang boleh berobat dengan thibbun nabawi, boleh juga tidak dan jika ia tidak menggunakan thibbun nabawi ia tidak berdosa dan tidak tercela. Ia menjadi tercela jika tidak beriman dan tidak percaya keutamaan thibbun nabawi. Misalnya tidak percaya, bahwa air zam-zam itu khasiatnya sesuai hajat peminumnya, tidak percaya bahwa madu itu penyembuh bagi manusia [syifaa’un linnaas]. Tidak percaya bahwa habbatus sauda adalah obat segala penyakit dan
lain-lain. Karena dalil-dalil tersebut sahih.
Thibbun nabawi sebaiknya diutamakan dan sebaiknya bukan alternatif
Ini bukan berarti wajib menggunakan thibbun nabawi, tetapi sebaiknya diutamakan dalam melakukan pengobatan. Tetapi perlu diingat juga, jika ada yang memilih tidak menggunakan thibbun nabawi maka ia tidak berdosa dan tidak tercela.
Selayaknya kita sebagai umat Islam lebih mengutamakan thibbun nabawi, Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata,
طب النبي صلى الله عليه وسلم متيقنلبرء لصدوره عن الوحي وطب غيره أكثره حدس أو تجربة
“Pengobatan ala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diyakini mendatangkan kesembuhan karena bersumber dari wahyu, sedangkan pengobatan yang lainnya, kebanyakan berdasarkan praduga dan eksperimen.” [Fathul Baari 10/170, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, Asy-Syamilah]
Obat alami dahulu baru obat kimia
Salah satu kampanye yang digaungkan di zaman modern ini adalah “back to nature”, kami sangat setuju dengan hal ini,
terlebih-lebih jika menggunakan thibbun nabawi dan zat-zat yang disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah seperti Madu dan Habbatus sauda.
Seorang ulama besar sekaligus dokter di zamannya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu berkata,
وقد اتفق الأطباء على أنه متى أمكن التداوي بالغذاء لا يعدل عنه إلى الدواء،
ومتى أمكن بالبسيط لا يعدل عنه إلى المركب.قالوا وكل داء قدر على دفعه
بالأغذية والحمية، لم يحاول دفعه بالأدوية
“Sungguh para tabib telah sepakat bahwa ketika memungkinkan pengobatan dengan bahan makanan maka jangan beralih kepada obat-obatan (kimiawi, pent.). Ketika memungkinkan mengkonsumsi obat yang sederhana, maka jangan beralih memakai obat yang kompleks. Mereka mengatakan, ‘Setiap penyakit yang bisa ditolak dengan makanan dan tindakan preventif tertentu, janganlah mencoba menolaknya dengan obat-obatan’.” [Thibbun Nabawi lii Ibnil Qayyim hal. 9, Maktabah Ats-Tsaqafi, Kairo]
Oleh karena itu jika sakit maka sebaikinya jangan langsung mengkonsumsi obat-obat kimia, sebaiknya menggunakan bahan alami dahulu. Atau jika penyakitnya cukup ringan tidak perlu menggunakan obat, biarlah imunitas tubuh yang bekerja sehingga imunitas tubuh juga tidak manja dan terlatih melawan penyakit. Tetapi ini adalah pilihan karena pengobatan juga melibatkan faktor sugesti, ada yang sugestinya sembuh jika menggunakan obat alami tertentu, sembuh dengan sugesti dengan obat kimia tertentu.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak diutus menjadi ahli pengobatan
Bisa kita lihat dalam kisah hadist berikut,
عَنْ سَعْدٍ، قَالَ: مَرِضْتُ مَرَضًا أَتَانِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُنِي
فَوَضَعَ يَدَهُ بَيْنَ ثَدْيَيَّ حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَهَا عَلَى فُؤَادِي فَقَالَ:
«إِنَّكَ رَجُلٌ مَفْئُودٌ، ائْتِ الْحَارِثَ بْنَ كَلَدَةَ
أَخَا ثَقِيفٍ فَإِنَّهُ رَجُلٌ يَتَطَبَّبُ فَلْيَأْخُذْ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِنْ عَجْوَةِ الْمَدِينَةِ
فَلْيَجَأْهُنَّ بِنَوَاهُنَّ ثُمَّ لِيَلُدَّكَ بِهِنَّ
“Dari Sahabat Sa’ad mengisahkan, pada suatu hari aku menderita sakit, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjengukku, beliau meletakkan tangannya di antara kedua putingku, sampai-sampai jantungku merasakan sejuknya tangan beliau. Kemudian beliau bersabda, ‘Sesungguhnya engkau menderita penyakit jantung, temuilah  Al-Harits bin Kalidah dari Bani Tsaqif, karena sesungguhnya ia adalah seorang tabib. Dan hendaknya dia [Al-Harits bin Kalidah] mengambil tujuh buah kurma ajwah, kemudian ditumbuk beserta biji-bijinya, kemudian meminumkanmu dengannya.” [HR. Abu Dawud no.2072]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tahu ramuan obat yang sebaiknya diminum, akan tetapi beliau tidak meraciknya sendiri tetapi meminta sahabat Sa’ad radhiallahu ‘anhu agar membawanya ke Al-Harits bin Kalidah sebagai seorang  tabib. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tahu ramuan obat secara global saja dan Al-Harits bin Kalidah sebagai tabib mengetahui lebih detail komposisi, cara meracik, kombinasi dan indikasinya.
Jadi pengobatan yang diberi petunjuk oleh Islam dalam thibbun nabawi bukan satu-satunya cara untuk berikhtiar mencapai kesembuhan, metode pengobatan lainnya juga bisa digunakan untuk mencapai kesembuhan atas izin Allah Ta’ala. Terlebih lagi jika pengobatan sudah teruji dan terbukti melalui penelitian dan eksperimen, artinya lebih banyak yang sembuh menggunakannya dari pada yang tidak sembuh. Pengobatan lainnya seperti kedokteran cina, kedokteran Yunani dan termasuk kedokteran barat modern saat ini.

Ada yang tidak sembuh dengan thibbun nabawi
Mengapa bisa tidak sembuh? Padahal jelas thibbun nabawi bahwa obat bagi segala macam penyakit, penyembuh bagi manusia. Maka jawabannya cukup panjang jika dijabarkan, namum di sini kita bahas beberapa aspek saja. semoga di lain kesempatan kita bisa membahasnya dengan panjang lebar.
Salah satu penyebab tidak sembuh adalah kurang tepat dalam:
-mendiagnosa penyakit
-memilih obat
-menggunakan dosis obat
-menghindari berbagai pantangan yang dapat menghambat kerja atau
berkebalikan kerjanya dengan obat
Sehingga walaupun sudah pasti habbatus sauda adalah obat bagi segala macam penyakit dan madu adalah penyembuh bagi manusia [syifaa’un linnaas], akan tetapi ini masih bahannya saja, perlu kemampuan lagi untuk tepat dalam  mendignosis penyakit, memilih obat, menggunakan dosis obat, meraciknya dan mengkombinasi dengan obat yang lainnya. Sehingga untuk lebih efektif pengobatannya lebih baik berkonsultasi kepada ahlinya atau tabib.
Sementara apa yang diterapkan pada kasus contoh pertama yang kami sebutkan di atas, hanya mengkonsumsi habbatus sauda dan madu secara biasa [asal-asalan] dan dilakukan secara mandiri tanpa tahu apa penyakitnya, bagaimana  dosisnya dan bagaimana racikannya. Ini juga yang dilakukan sebagian kecil saudara kita.
Ibnu hajar Al-Asqalani rahimahullahu berkata,
فقد اتفق الأطباء على أن المرض الواحد يختلف علاجه باختلاف السن
والعادة والزمان والغذاء المألوف والتدبير وقوة الطبيعة…
لأن الدواء يجب أن يكون له مقدار
وكمية بحسب الداء إن قصر عنه لم يدفعه بالكلية وإن جاوزه
أو هي القوة وأحدث ضررا آخر
“Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur,  kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan dan daya tahan fisik… karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit, jika dosisnya berkurang maka tidak bisa menyembuhkan dengan total dan
jika dosisnya berlebih dapat menimbulkan bahaya yang lain.” [Fathul Baari 10/169-170, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379 H, Asy-Syamilah]
Begitu juga dengan Al-Quran yang diturunkan sebagai penyembuh baik penyakit hati dan badan, kita bisa contoh dalam hadits sahabat Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu membacakan ruqyah Al-Fatihah kepada kepala suku yang tersengat kalajengking dan atas izin Allah Ta’ala sembuh. Lalu ada yang pernah mencoba dengan pasien yang sakit demam ringan tetapi qaddarullah tidak sembuh. Maka bukan Al-Qurannya yang salah tetapi manusianya yang kurang Iman dan tawakkalnya.  

Ibaratnya thibbun nabawi adalah sebuah pedang yang pasti tajam, akan tetapi pedang tajam tersebut berguna dengan tepat jika dipegang oleh ahlinya.
Di zaman ini di mana sangat sulit kita mendapatkan orang seperti sahabat Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, maka tidak menutup kemungkinan pengobatan lain juga bisa digunakan seperti kedokteran barat modern dan pengobatannya juga bisa dikombinasikan dan berjalan bersamaan.

Kedokteran modern barat yang diakui oleh dunia
Sekali lagi kita tidak perlu anti total terhadap kedokteran modern barat karena prinsip kedokteran barat adalah  berdasarkan penelitian ilmiah dan melalui berbagai macam tingkat pengujian dan percobaan atau apa yang dikenal dengan istilah evidance based medicine. Bahkan pengobatan tradisional dan pengobatan lainnya jika sudah melewati
tahap peneltian dan berhasil maka akan dimasukkan dalam metode pengobatan modern barat seperti akupuntur yang sudah banyak digunakan oleh dokter dan sudah ada di berbagai rumah sakit.
Kedokteran modern barat sudah banyak terbukti, dipakai dan diakui oleh hampir seluruh negara di dunia. Kami melihat sendiri di UGD rumah sakit bagaimana kasus-kasus gawat darurat yang jika tidak ditangani dengan cepat maka akan menerenggut nyawa. Seperti hipoglikemi, keracunan bisa ular, hipotensi, hipertensi dan kasus syok kehilangan kesadaran, maka dengan terapi kedokteran modern saat ini semua itu bisa ditangai lebih awal atau minimal menyelamatkan nyawa seseorang.
Satu lagi yang kami ingin sampaikan bahwa setahu kami, pengobatan dengan bahan-bahan alami dan tradisional memiliki cara kerja yang bersifat umum dan kurang spesifik seperti memperlancar peredaran darah, meningkatkan daya tahan tubuh dan mengaktifkan saraf yang kurang bekerja.
Sebagaimana habbatus sauda, penelitian ilmiah membuktikan bahwa habbatus sauda dapat meningkatkan daya tahan tubuh, dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar bahwa habbatus sauda obat bagi segala macam penyakit karena teorinya jika daya tahan tubuh baik dan meningkat maka semua penyakit pasti akan sembuh. Akan tetapi jika hanya mengandalkan daya tahan tubuh maka untuk penyakit yang agak berat mungkin akan memakan waktu yang lama, belum lagi jika ada penyulitnya seperti penyakit tersebut bisa menekan daya tahan tubuh, misalnya penyakit kanker atau infeksi bakteri ganas.
Maka kedokteran modern barat dengan penelitian ilmiah sampai ke tingkat sel dan reseptor sel, bisa memilih obat yang spesifik dan langsung bekerja menemui sasarannya. Langsung melawan sel kanker dan langsung bisa melawan bakteri. Sehingga diharapkan penyembuhan bisa terjadi dengan lebih cepat. Apalagi jika kedua pengobatan barat modern dan thibbun nabawi dikombinasikan, maka diharapkan penyembuhan bisa lebih cepat lagi dengan izin Allah Ta’ala.

penutup
semoga apa yang kami sampaikan bisa berguna bagi kita semua, semoga semakin banyak dokter dan cendikiawan muslim yang bisa mengembangkan thibbun nabawi dan mempopulerkannya kembali di masyarakat dan semoga dokter muslim kembali menguasi pengobatan modern yang dahulunya dikuasai oleh kaum muslimin. Terlebih-lebih mereka bisa mengkombinasikannya dengan thibbun nabawi.
Hal Ini mengingatkan kami dengan apa yang menjadi penyesalan Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu kepada kelalaian umat Islam terhadap Ilmu medis sehingga beliau berkata,
ضَيَّعُوا ثُلُثَ العِلْمِ وَوَكَلُوهُ إِلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى
 “Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.”   [Siyar  A’lam An-Nubala Adz-Dzahabi 8/258, Darul Hadits, Koiro, 1427 H, Asy-Syamilah]

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid
16 Shafar 1433 H bertepatan 10 Januari 2012
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel http//muslimafiyah.com
Muraja’ah: Ustadz Aris Munandar, SS. MA. Hafidzahullahu [beliau adalah guru agama penulis, kami banyak mengambil ilmu dari beliau]

Sabtu, 28 Januari 2012

Sakit Kepala


Kenapa Kebanyakan Penyakit Punya Gejala Sakit Kepala?


Jakarta, Sakit kepala sering menjadi gejala dari berbagai macam penyakit, baik penyakit ringan seperti migrain hingga penyakit berat dan mengancam nyawa seperti stroke atau meningitis. Tahukah Anda mengapa kebanyakan penyakit menimbulkan gejala sakit kepala?

Kebanyakan penyakit di tubuh berhubungan dengan kontraksi otot, kelainan pembuluh darah atau saraf, yang semuanya berhubungan dengan kepala. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan penyakit menimbulkan gejala sakit kepala dan pusing.

Sakit kepala didefinisikan sebagai nyeri pada kepala yang terletak di atas mata atau telinga, belakang kepala (occipital) atau di belakang leher bagian atas. Seperti halnya nyeri dada, sakit kepala juga memiliki banyak penyebab.

Pada tahun 2007, International Headache Society sepakat bahwa sistem klarifikasi perlu diperbarui untuk sakit kepala, karena begitu banyak orang yang menderita sakit kepala karena berbagai sebab.
Ada tiga kategori utama sakit kepala, yaksi sakit kepala primer, sakit kepala sekunder dan neuralgias kranial (nyeri wajah dan sakit kepala lainnya), seperti dilansir medicinenet.com, Jumat (9/12/2011).

1. Sakit kepala primer 
 Sakit kepala ini tidak berhubungan atau disebabkan oleh penyakit lain, misalnya sakit kepala migrain, sakit kepala karena tegang (stres, depresi, atau kejang) dan sakit kepala cluster (jenis sakit kepala langka).

2. Sakit kepala sekunder
Berbeda dengan sakit kepala primer, sakit kepala sekunder disebabkan oleh penyakit terkait seperti tumor otak, stroke, meningitis, perdarahan subarachnoid, penggunaan kafein, tekanan darah tinggi, dehidrasi, gangguan ginjal, THT, gigi, mata, kejiwaan atau penghentian analgesik. Pada kasus langka, sakit kepala mungkin menandakan serangan jantung.

3. Neuralgias kranial (kelainan saraf)
Neuralgia kranial menggambarkan sekelompok sakit kepala yang terjadi katena saraf di kepala dan leher atas meradang dan menjadi sumber dari penyakit di kepala. Nyeri wajah dan berbagai penyakit kepala lain termasuk dalam kategori ini.

 

3 Jenis Sakit Kepala yang Butuh Penanganan Darurat

Jakarta, Sakit kepala biasanya tidak mengancam jiwa. Namun sakit kepala yang amat parah bisa jadi pertanda sesuatu hal yang jauh lebih serius dan membutuhkan penanganan darurat. Setidaknya ada 3 jenis sakit kepala yang membutuhkan penanganan darurat.


Gejala penyakit seperti stroke, aneurisma (perdarahan dari pembuluh darah) dan meningitis biasanya berupa sakit kepala. Maka itu ada baiknya mengawasi sakit kepala yang terasa sangat berbeda dari sakit kepala biasa.


"Pusing yang tidak biasa berarti gejala kelainan pembuluh darah di otak yang sudah mulai sedikit bocor. Kondisi ini bisa berubah gawat sehingga menyebabkan pendarahan dan dapat mengancam kehidupan," kata Adam Wilkes, MD, spesialis Unit Gawat Darurat di Lankenau Hospital di Wynnewood, Pennsylvania seperti dilansir Health.com, Jumat (27/1/2012).


Berikut adalah tiga tanda-tanda sakit kepala yang membutuhkan penanganan dokter dengan segera.


1. Sakit kepala disertai nyeri leher dan demam


Sakit kepala yang disertai nyeri atau kaku pada leher dan demam bisa jadi pertanda meningitis. Meningitis atau radang selaput sistem saraf pusat dapat dengan cepat berubah menjadi kritis.


Gejala khasnya adalah demam, sakit kepala dan kekakuan pada otot leher yang berlangsung selama berjam-jam atau dirasakan sampai 2 hari.


2. Sakit kepala disertai mual


Mual parah atau muntah disertai gangguan syaraf seperti kesulitan berbicara atau berjalan dapat menjadi tanda-tanda stroke hemorrhagic, yaitu stroke yang disertai pendarahan pada otak.


Kerusakan akibat strok ini dapat terjadi dengan sangat cepat, baik karena pendarahan atau karena meningkatnya tekanan cairan pada otak. Pendarahan pada jaringan otak dapat menyebabkan kematian.


3. Sakit kepala paling parah yang belum pernah dirasakan sebelumnya


Sakit kepala biasa sudah cukup menyakitkan. Tapi jika mengalami sakit kepala yang dirasa paling buruk dari yang sudah pernah dialami sebelumnya, itu bisa jadi pertanda aneurisma.


Aneurisma adalah bocor atau pecahnya pembuluh darah pada otak. Rembesan darah yang membasahi otak menyebabkan pasien hanya mengeluh pusing. Namun lama-kelamaan, rembesan darah dapat menjadi banjir darah di otak. Inilah yang menyebabkan penderitanya meninggal mendadak.

Sumber : detikHealth 
               detikHealth1
               detikHealth2

Cegukan dan Serangan Jantung?

New York City, Cegukan merupakan kondisi umum yang sering terjadi pada setiap orang. Tapi seorang pria harus masuk ruang gawat darurat karena cegukan yang dialaminya selama 4 hari ternyata merupakan satu-satunya gejala serangan jantung.

Dalam kasus yang sangat langka dan sangat tidak biasa, cegukan terus-menerus bisa menjadi satu-satunya gejala serangan jantung. Meski kasus seperti ini sangat sedikit, tapi menurut studi kasus yang diterbitkan pada American Journal of Emergency Medicine edisi Januari, hal ini diketahui pernah terjadi pada seorang pria berusia 68 tahun.

Pria yang tidak disebutkan identitasnya tersebut harus masuk ruang gawat darurat karena mengalami cegukan setiap 4 sampai 6 detik selama empat hari.

Tekanan darahnya sedikit tinggi dan dokter melakukan pengujian sinar-X dada untuk mencari kemungkinan tumor, tetapi tidak ditemukan masalah apa-apa.

Dokter kemudian memberinya relaksan otot dan obat lain yang dikenal untuk mengurangi singultus, yaitu istilah medis untuk cegukan. Menurut dokter, dengan obat tersebut cegukannya akan berhenti dengan sendirinya. Namun 2 hari kemudian, ia kembali ke ruang gawat darurat dengan kondisi masih cegukan.

Karena pria yang sudah tua itu memiliki beberapa faktor risiko untuk penyakit jantung, seperti diabetes, merokok dan tekanan darah tinggi, dokter mengujinya dengan elektrokardiogram (EKG), yang akan menunjukkan beberapa kelainan irama jantung.

Tes darah menunjukkan pria tersebut memiliki protein tingkat tinggi yang dikeluarkan ketika otot jantung telah rusak, yang mengkonfirmasi diagnosis untuk serangan jantung kecil.

Pria itu tidak mengalami nyeri dada, tidak ada kesulitan bernapas, tidak nyaman, serta tidak ada mual, pusing atau berkeringat dingin, hanya cegukan konstan. Tetapi begitu ia diberikan obat jantung, cegukannya langsung hilang.

"Jujur saya tidak tahu mengapa pria itu tidak ada tanda-tanda peringatan serangan jantung yang biasa. Tapi banyak orang, terutama penderita diabetes, dapat memiliki presentasi yang tidak biasa untuk masalah jantung," jelas Dr. Joshua Davenport, emergency physician di St. Luke's-Roosevelt Hospital, New York City, seperti dilansir MSNBC, Sabtu (28/1/2012).

Menurut Dr Davenport, cegukan biasanya tidak disebabkan oleh sesuatu yang berat seperti serangan jantung tanpa seseorang mengalami gejala lain. Kasus ini diakuinya sebagai pengecualian dan sangat langka.

"Adapun mengapa masalah jantung mungkin telah memicu cegukan, karena ketika jantung tidak mendapatkan cukup oksigen karena darah kurang mengalir melalui arteri yang sakit, ini bisa mengiritasi saraf diafragma, otot pernapasan bawah jantung," jelasnya.

Cegukan yang terjadi menunjukkan bahwa diafragma (otot berbentuk kubah yang berada tepat di bawah paru-paru dan terhubung ke tulang rusuk) bergerak naik dan turun tanpa sadar, atau disebut kontraksi spasmodik diafragma.

Salah satu saraf yang mengatur gerakan diafragma ini adalah saraf phrenic. Alasan yang lebih umum mengapa saraf berjalan ke diafragma teriritasi dan menyebabkan cegukan adalah perut buncit, minum alkohol atau banyak soda, permen karet atau merokok.

Kasus cegukan tanpa henti juga bisa dipicu oleh refluks asam. Cegukan konstan juga dapat disebabkan oleh tumor di kepala, leher atau paru-paru, atau infeksi di otak atau telinga.

Sumber: detikHealth

Jumat, 27 Januari 2012

Kisah Motivasi Dokter Alvita

Bismillahirrahmanirrahim
Sebuah kisah motivasi yang saya ambil dari blog seorang kakak tingkat

 
Sapaan yang cukup lembut mengawali perjumpaan dengannya. ”Saya Vita,” kata perempuan berpakaian dokter memperkenalkan diri, beberapa waktu lalu. Sebagai dokter yang baru mengambil spesialisasi nuklir di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, pagi itu Vita tugas piket di bagian nuklir Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung
Dokter Alvita Dewi Siswoyo, atau yang biasa disapa Vita, sekian tahun lalu lama menjadi pasien dan langganan rumah sakit. Berulang kali dia menjalani operasi, tambah lagi enam seri kemoterapi, serta 70 kali radioterapi. ”Kanker kedua telah mengubah hidup saya. Kanker pertama adalah misteri, kanker kedua merupakan malapetaka,” tutur dokter berusia 26 tahun itu.
Karena penderitaan itulah, Vita bertekad menjadi dokter. Pengalamannya menjadi pasien yang sering merasa tertekan, sedih, kadang putus asa, diyakini menjadi bekal yang cukup buat memahami pasien. ”Saya ingin menyebarkan kepada para pasien penderita kanker serta keluarganya bahwa masih ada harapan dan kita tetap bisa hidup dan berguna untuk orang lain,” kata Vita.
Suratan takdir membuat Vita harus kehilangan salah satu matanya. ”Saya tak pernah tahu rasanya punya dua mata,” ucapnya. Padahal, ketika lahir pada 19 Januari 1983, orangtuanya, pasangan dr Loekito Siswoyo dan Vera Wibowo, mendapatkan bayinya dalam keadaan normal.
Seperti orangtua lain umumnya, Loekito ingin merayakan setiap momen penting perkembangan buah hatinya. Pada ulang tahun Vita, keluarga merayakan, antara lain dengan tiup lilin. Blup! Tiba-tiba lampu mati.
Loekito merasa ada sesuatu yang mencurigakan ketika melihat mata Vita memancarkan cahaya seperti mata kucing. Foto yang dicetak kemudian semakin memperjelas adanya sinar tajam dari mata kiri Vita.
Benar saja, setelah melalui sejumlah pemeriksaan dokter ahli di Jakarta, Vita dinyatakan menderita penyakit yang cukup serius, retinablastoma. Dokter menyarankan untuk segera mengangkat mata kiri guna menghindari penyebaran ke tempat yang lebih jauh.
Operasi yang cukup mendadak itu membuat Vera yang ketika itu sedang hamil anak kedua mengalami pendarahan. Maka, ibu-anak itu berada di rumah sakit yang sama untuk perawatan yang berbeda.
Terus bertanya Kendati tidak memiliki mata lengkap, Vita kecil sangat aktif menjalani banyak kegiatan. Les musik, menyanyi, dan berenang adalah sebagian dari kegiatannya di sela-sela aktivitas sekolah. Vita masih ingat, semasa kecil dia adalah anak periang, sampai suatu hari dia mendapat ejekan dari teman sekolahnya.
”Sejak itu saya jadi pendiam dan menarik diri,” katanya. Tak seperti remaja lainnya, sepulang sekolah Vita lebih banyak diam di rumah dan mengutak-utik pelajaran. Dia tak berhenti bertanya, mengapa bisa terkena kanker dalam usia yang masih begitu muda. Mengapa matanya harus hilang? Mengapa dunia tidak adil terhadap dirinya?
Belum selesai dengan berbagai macam pertanyaan, pada usia 16 tahun, petaka datang. Vita dinyatakan menderita kanker jaringan tulang lunak atau yang sering disebut ewing sarcoma stadium 3. Jenis kanker ini cukup langka dan biasa menimpa anak usia 10-20 tahun.
Sejak dokter di Jakarta menemukan kanker di tumit kaki, Vita menjalani serangkaian pemeriksaan yang membuat kecil hatinya. Pemeriksaan berlanjut saat orangtuanya membawanya mencari kemungkinan baru di Singapura. Jika rasa sakitnya sedang menyerang, semalaman Vita tak tidur. Untuk berjalan saja, dia tak mampu sehingga harus menggunakan kursi roda. ”Derita apa lagi yang harus kujalani? Kenapa aku lagi?” begitu tanyanya hari ke hari. Bangku sekolah terpaksa ditinggalkan selama setahun.
Duka sesama penderita kadang bisa membangkitkan semangat, tetapi kadang justru menghancurkan. Begitulah yang dialami Vita. Pada proses pengobatan, dia berteman dengan Jessica yang terdeteksi kanker tulang stadium 1. Mereka saling memberi dan berbagi seperti dua sahabat yang diikat oleh penderitaan yang sama.
Secara awam, Jessica yang waktu itu berusia 14 tahun semestinya lebih mempunyai banyak harapan dibandingkan Vita. Namun, nasib berkata lain. Dalam suatu pertemuan tak sengaja di kantin rumah sakit, dia menyaksikan sahabatnya itu duduk di kursi roda dengan kaki sebelah yang sudah diamputasi. ”Ya Tuhan, saya sudah kehilangan mata, saya tidak mau lagi kehilangan kaki,” ucapnya dalam hati. ”Sejak itu, saya tak mau bertemu Jessica karena saya tak tahu harus bicara apa.”
Motivator Waktu terus berjalan. Vita yang dulu kini sudah menjadi dokter dan motivator bagi pasien-pasien penderita kanker. Saat enam bulan magang di Yayasan Kanker Indonesia, Vita sering mendapat telepon yang sekadar minta didengar.
Sebagai mantan pasien, Vita memahami sepenuh jiwa suasana batin penderita kanker. Ia juga bisa ikut merasakan rasa tak nyaman akibat pengobatan. Nasihat agar pasien bersabar, seperti yang umum disampaikan saat kita menjenguk pasien yang sedang terbaring sakit, menurut Vita, tak guna. ”Dulu saya benci kalau ada orang yang bilang, ’Sabar ya, Vit’. Enak saja bilang sabar, sabar,” katanya mengenang ucapan-ucapan yang sering disampaikan kerabatnya.
Vita merasa beruntung mendapat kasih yang melimpah dari orangtuanya. Masih terus diingatnya ucapan ibunya bahwa di balik kekurangan, pasti ada kelebihannya. Adalah ibunya yang begitu telaten mencekoki dengan jus buah apel, tomat, dan wortel. Sehari Vita bisa menghabiskan masing-masing 1 kilogram, yang dibuat secara segar dalam beberapa kali. Begitu bosannya, Vita sering protes. ”Memangnya perut saya sampah, setiap hari makan begini,” ucapnya. Ibunya tak pernah membalas dengan ucapan, hanya sesekali air matanya jatuh. Sementara ayahnya yang dinilai sebagai orang sangat kuat pun sempat dilihatnya menangis.
Kebahagiaan demi kebahagiaan datang kemudian. Hanya beberapa saat setelah kembali ke kota asalnya, Semarang, Vita dipinang seorang pria. Satu hadiah lagi, pada Mei lalu, dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran untuk spesialisasi kedokteran nuklir.
Wawancara yang menjadi bagian cukup menentukan benar-benar membesarkan hati. ”Sama sekali tidak ada pertanyaan yang meragukan mata saya yang hanya satu. Beruntung pewawancara lebih menggali potensi saya daripada kekurangan fisik saya.”

Kamis, 26 Januari 2012

Menuntut Ilmu Pada Seorang Dokter

 Bismillahirrahmanirrahim
 Semoga bisa jadi pelajaran bagi kita 

Bila ingat cita-citaku dimasa kecil, aku selalu berkata :”Aku mau jadi dokter”. Kepada setiap orang yang menanyakan mau jadi apa aku nanti setelah dewasa. Rasanya impian itu selalu aku bawa dalam tidur. Bermain bersama teman-temanpun kami lakukan seperti apa yang biasa dokter lakukan pada pasiennya.

Seorang dokter dapat selalu membantu orang yang sakit. Memberikan pelayanan gratis bagi orang yang tidak mampu. Sebagai gadis kecil, aku selalu beranggapan dokter adalah seorang yang sepesial. Berbaju putih, ramah dan menggunakan mobil kemanapun pergi. Dibandingkan dengan keadaanku saat itu, keluarga kami termasuk kurang sejahtera.

Begitu aku remaja, cita-cita untuk menjadi dokter sirna. Bukan karena cita-cita itu tenggelam, tapi menyadari kemampuan ekonomi kami yang serba kekurangan. Masih untung dapat sekolah sampai SMU, karena esok harinya masih dipertanyakan, “Apakah esok masih ada makanan untuk kami?”

Setelah menikah dan punya 3 orang anak laki-laki, mulailah kembali aku berkenalan dengan dokter. Kami punya langganan seorang dokter spesialis anak, namanya dr. Suryantini.
Setiap kami berkunjung untuk konsultasi atau berobat, maka kesempatan itu aku pakai untuk berbincang-bincang kepada dokter tersebut. Beliau punya satu anak laki-laki, yang bersekolah di Jawa.
Selama ini aku selalu memandang, bahwa dokter itu enak. Pasien di tempat prakteknya sangat banyak. Aku pun menghitung untuk satu pasien Rp. 60.000,-, jika ada 30 pasien berapa pendapatnnya satu bulan.

Pagi pun berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Untuk sekali kunjungan dibayar sekian rupiah. Sehingga aku memperkirakan sekian juta pendapatan dokter untuk satu bulannya. Dibandingkan suamiku, dokter tersebut mendapatkan 10 kali lipat dari pendapatan suamiku per bulannya. ( ini hanya menurut perkiraanku .)

Dokter langganan keluarga kami itu, sebenarnya sangat berjasa besar pada keluargaku terutama pada anak-anakku. Bila mereka sakit, aku selalu menemui beliau. Jika beliau ke luar kota, aku pun tidak segan menelponnya untuk meminta bantuannya. Kami berhubungan kurang lebih 6 tahun. Orangnya ramah, agak tegas. Jika ada orangtua yang kurang memperhatikan kesehatan anaknya, dokter tersebut tidak akan sungkan untuk memarahi.

Setiap kunjungan, seringkali beliau memberikan info-info kesehatan tanpa disadarinya. Misalkan: Jika anak-anak baru panas sehari, jangan langsung diberian obat. Tapi harus banyak diberikan minum dan istirahat yang cukup: Sering batuk-batuk di malam hari, itu bertanda batuknya sesak dan harus segera di bawa kedokter untuk ditangani. Jangan sampai susah bernapas baru ke dokter. Akibatnya bisa fatal: Anak yang hiperaktif adalah anak yang tidak bisa diam lebih dari 5 menit: Atau hal lainnya yang sangat bermanfaat bagi kami.

Kalau menurut saya, pergi ke dokter merupakan saat untuk belajar tentang berbagai penyakit dan ciri-ciri penyakit yang harus diwaspadai. Jadi bukan hanya datang untuk mengobati penyakit, tapi juga menambah ilmu. Sesuai dengan hadits Rasulullah S.A.W: Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki maupun perempuan: Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.”

Ilmu itu tidak harus hanya tentang agama, tapi juga tentang semua hal. Apakah itu tumbuhan, masak-memasak atau belajar mendidik anakpun perlu ilmu. Setiap saat kita memerlukan ilmu untuk mengelola keadaan kita, agar kita mampu dan cerdas menyikapi persoalan apapun yang kita hadapi.
Maka benarlah jika didalam Al-Qur’an di beritahukan : Maka apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu?

Kembali ke dokter, dokter yang aku kagumi itu banyak menyimpan kepedihan. Beliau bercerita bahwa ada banyak sekali pasien yang datang kepadanya, baik itu yang penyakitnya masih ringan ataupun sudah parah, marah kepadanya dengan berbagai alasan menyatakan ketidak puasan atas pengobatan yang diberikan dokter.. Padahal seringkali beliau menomor duakan keluarganya, karena ada pasien gawat yang tidak boleh ditinggal. Aku merasa terenyuh mendengar curhatnya. Waktu yang dimilikinya sebagian besar untuk pasiennya.

Bayangkan, walaupun dalam keadaan tidur, beliau masih menerima telepon darurat! Keluar kotapun beliau tetap dapat dihubungi. Aku sesungguhnya kasihan padanya. Jika dibandingkan denganku, waktuku sebagian besar untuk keluargaku.

Orang tuanya sakit keras di Jawa, tapi beliau hanya menungguinya satu minggu. Pasiennya banyak menantikan pertolongannya. Dilema yang dialaminya sungguh berat, antara bakti kepada orangtua atau melayani masyarakat. Jadi tidak salah ketika pada suatu kesempatan beliau mengatakan :”Jika orang tahu bagaimana sibuknya kita menjadi seorang dokter, tentu tidak ada yang mau anaknya menjadi dokter!”.

Sang dokter juga menceritakan keharuannya, ketika ada seorang bapak yang datang membawa hasil kebunnya, berupa jagung. Bapak tersebut mengucapkan terima kasih atas bantuan dokter tersebut. Bapak tersebut menyatakan hanya jagung yang dapat diberikannya, karena dia hanya seorang petani.
Begitulah dalam hidup. Seringkali kita kecewa dengan pelayanan seseorang, karena kita merasa telah membayar sejumlah uang. Padahal sebagai seorang muslim yang baik, tentunya kita harus berbicara yang ma’ruf atau diam.

Hargailah usaha seseorang untuk menolong kita, bagaimanapun hasilnya. Karena Allah pun menilai hambanya dari usahanya, bukan hasil akhir dari usahanya tersebut.
 Sumber: Eramuslim

Kamis, 19 Januari 2012

Malpraktek Sudah Diatur Islam Sejak Dahulu

Inilah kesempurnaan ajaran agama Islam, jauh sebelum kedokteran modern merumuskan tentang malpraktek dan ketentuannya, Agama Islam telah meletakkan dasar mengenai hal ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَطَبَّبَ وَلَمْ يُعْلَمْ مِنْهُ طِبٌّ قَبْلَ ذَلِكَ فَهُوَ ضَامِنٌ
“Barang siapa yang melakukan pengobatan dan dia tidak mengetahui ilmunya sebelum itu maka dia yang bertanggung jawab.” [HR. An-Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah dan yang  lain, hadits hasan no. 54  kitab Bahjah Qulub Al-Abrar]

Menurut pengertian kedokteran modern, malpraktek adalah praktek kedokteran yang salah atau tidak sesuai dengan standar profesi atau standar prosedur operasional. Dalam kamus kedokteran Dorland dijelaskan,
“Malpraktek adalah praktek yang tidak benar atau mencelakakan; tindakan kedokteran yang tidak terampil atau keliru [Dorland hal. 1282, edisi 29]

Jika melakukan malpkraktek harus bertanggungjawab
Ulama sekaligus dokter terkenal di zamannya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu berkata,
فإيجابُ الضمان على الطبيب الجاهل،
فإذا تعاطى عِلمَ الطِّب وعمله، ولم يتقدم له به معرفة
“Maka wajib mengganti rugi [bertanggung jawab] bagi dokter yang bodoh jika melakukan praktek kedokteran dan tidak mengetahui/mempelajari ilmu kedokteran sebelumnya” [Thibbun Nabawi hal. 88, Al-Maktab Ats-Tsaqafi, Koiro]

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata,
أنه لا يحل لأحد أن يتعاطى صناعة من الصناعات
وهو لا يحسنها ، سواء كان طبا أو غيره ،
وأن من تجرأ على ذلك ، فهو آثم . وما ترتب على عمله
من تلف نفس أو عضو أو نحوهما ، فهو ضامن له
“Tidak boleh bagi seseorang melakukan suatu praktek pekerjaan dimana ia tidak mumpuni dalam hal tersebut. Demikian juga dengan praktek kedokteran dan lainnya. Barangsiapa lancang melanggar maka ia berdosa. Dan apa yang ditimbulkan dari perbuatannya berupa hilangnya nyawa dan kerusakan anggota tubuh atau sejenisnya, maka ia harus bertanggung jawab.” [Bahjah Qulubil Abrar hal. 155, Dar Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet-ke-1, 1423 H]

Al-khathabi rahimahullahu berkata
لا أعلم خلافاً فى أن المعالِج إذا تعدَّى، فتَلِفَ المريضُ
كان ضامناً، والمتعاطى علماً أو عملاً لا يعرفه متعد،
فإذا تولَّد من فعله التلف ضمن الدية، وسقط عنه القَودُ،
لأنه لا يستبِدُّ بذلك بدون إذن المريض وجنايةُ المُتطبب
فى قول عامة الفقهاء على عاقِلَتِه
“Saya tidak mengetahui adanya perselisihan dalam pengobatan apabila seseorang melakukan kesalahan, sehingga menimbulkan mudharat pada pasien, maka ia harus menanggung ganti rugi. Orang yang melakukan praktek [kedokteran] yang tidak mengetahui ilmu dan terapannya, maka ia adalah orang yang melampui batas. Apabila terjadi kerusakan akibat perbuatannya, maka ia harus bertanggung jawab dengan mennganti diyat.” [” [Thibbun Nabawi hal. 88, Al-Maktab Ats-Tsaqafi, Koiro]

 Musibah tanpa malpraktek dan malpraktek tanpa musibah
Kedua istilah ini dikenal dalam kedokteran modern. Musibah tanpa malpraktek misalnya,
Pasien meninggal dalam suatu operasi, walaupun dokter sudah melakukan segala cara yang harus dilakukan sesuai dengan ilmu yang dipelajari dan pengalaman yang diperoleh [Terhindar dari Malpraktek hal. 2, dr. Bahar sp.B onk, Kawan Pustaka, 2005]

Maka hal ini juga sudah ditegaskan dalam Islam, Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahu berkata,
أن الطبيب الحاذق ونحوه إذا باشر ولم تجن يده ،
وترتب على ذلك تلف ، فليس بضامن ؛ لأنه مأذون فيه
من المكلف أو وليه . فكل ما ترتب على المأذون فيه ،
فهو غير مضمون
“Dokter yang mahir, jika melakukan [praktek kedokteran] dan tidak melakukan kesalahan, kemudian terjadi dalam prakteknya kerusakan/bahaya. Maka ia tidak harus mengganti rugi. Karena ia mendapat izin dari pasien atau wali pasien. Dan segala kerusakan yang timbul dalam perbuatan yang mendapat izin, maka tidak harus mengganti rugi.” [Bahjah Qulubil Abrar hal. 156, Dar Kutub Al-‘Ilmiyah, Beirut, cet-ke-1, 1423 H]

Maksud mendapat izin yaitu ada ridha dari pasien bahwa ia mau diobati oleh dokter, atau ia meminta dokter untuk melakukan pengobatan padanya. Hal ini diperkuat dengan kaidah fiqhiyah.
ما ترتب على المأذون فهو غير مضمون, و العكس بالعكس
“Apa-apa [kerusakan] yang timbul dari sesuatu yang mendapat izin, maka tidak harus mengganti rugi, dan kebalikannya” [Al-Qawaaidul Ushuul Jaami’ah hal. 21, Darul Wathan, Riyadh, cet. Ke-2, 1422 H]

Malpraktek tanpa musibah misalnya, pasien diperiksa dengan berbagai alat canggih berbiaya mahal. Walaupun tidak diperlukan. Maka hal ini juga dilarang dalam Islam, karena sebaiknya kita memperlakukan seseorang sebagaimana kita ingin diperlakukan.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يُؤمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman sehingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.”[HR. Bukhari-Muslim]

Rincian malpraktek
Bahkan kesalahan dan ganti rugi dengan rinci dijelaskan oleh ulama Islam. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullahu merincinya ada lima pembagian:
1. Dokter yang mahir, melakukan praktek sesuai standar dan tidak melakukan kecerobohan
Kemudian terjadi efek yang kurang baik bagi pasien, maka ia tidak harus bertanggung jawab dengan mengganti.
Kami [penulis] beri contoh kasus disaat ini, misalnya pasien mendapat obat dari dokter, kemudian dokter sudah bertanya apakah ia mempunyai alergi dengan obat tertentu, maka pasien menjawab tidak tahu, kemudia dokter menjelaskan bisa jadi terjadi alergi. Kemudian pasien memilih menggunakan obat tersebut. Kemudian terjadi alergi berupa gatal-gatal pada pasien tersebut. Maka dokter tidak wajib mengganti kerugian. Alasannya lainnya juga karena kita tidak tahu apakah ia alergi obat apa tidak, karena ketahuan hanya jika sudah dicoba mengkonsumsi.

2. Dokter yang bodoh dan melakukan praktek kedokteran
Kemudian terjadi bahaya bagi pasien, maka dokter wajib bertanggung jawab atau ganti rugi berupa diyat.
Kami [penulis] beri contoh kasus disaat ini, misalnya mahasiswa kedokteran yang masih belajar [co-aas] melakukan praktek kemudian terjadi kesalahan yang merugikan pasien maka ia wajib bertaggung jawab.

3. Dokter yang mahir, mendapatkan izin, kemudian melakukan kecerobohan.
Maka ia wajib bertanggung jawab, akan tetapi ada perselisihan dalam penggantian diyat, bisa jadi dari harta dokter ataupun dari baitul mal [kas negara].
Kami [penulis] beri contoh kasus disaat ini, misalnya dokter bedah ketika membedah, pisau bedah tertinggal diperut pasien, kemudian perut pasien rusak, maka dokter bedah wajib bertanggung jawab.

4. Dokter yang mahir, berijtihad memberikan suatu resep obat, kemudian ia salah dalam ijtihadnya
Maka ia wajib bertanggung jawab dan ada dua pendapat tentang harta pengganti, bisa dari baitul mal [kas negara] atau harta keluarganya.

5. Dokter yang mahir, melakukan pengobatan kepada anak kecil atau orang gila tanpa izinya teta[i mendapat izin walinya
Kemudian terjadi kerusakan/bahaya bagi pasien maka ganti rugi dirinci, jika ia melakukan kecorobohan, maka ia wajib mengganti jika tidak maka tidak perlu mengganti.
[lihat Thibbun Nabawi hal. 88-90, Al-Maktab Ats-Tsaqafi, Koiro]

Ganti ruginya apa?
Ini juga sudah diatur dalam Islam, kita bisa membaca panjang lebar penjelasan ulama dalam pembahasan fiqh kitab Jinayaat  yaitu tentang kejahatan dan ganti rugi.
Kita ambil contoh, misalnya dokter bedah ketika membedah, pisau bedah tertinggal diperut pasien, kemudian perut pasien meninggal. maka dokter bedah harus bertanggung jawab, tetapi ia tidak diqishas dengan dibunuh juga, tetapi harus bertanggung jawab membayar diyatnya baik dari hartanya atau kas negara.
Dalam penbahasan Jinayaat  juga dirinci berapa diyat jika merusak wajah, hidung, mata, kaki dan lain-liannya dengan rinci. Silahkan merujuk pada kitab fiqh, maka kita akan mendapatkan penjelasan yang rinci. Karena ini menunjukkan kesempurnaan ajaran Islam.

Penutup
Demikianlah, melalui tulisan ini kami ingin membuktikan bahwa agama Islam adalah agama sempurna yang sudah memberikan petunjuk segala macam sisi kehidupan manusia baik untuk kebaikan dunia maupun akhirat.
Begitu juga dengan ilmu kedokteran, para ulama juga menaruh perhatian besar terhadap ilmu kedokteran bahkan ada juga yang merangkan ulama sekaligus dokter. Akan tetapi kaum muslimin sekarang ini jauh dari ulama, sehingga tidak tahu bahwa apa yang mereka dapatkan dari orang-orang kafir ternyata ada dalam ajaran Islam.
Hal Ini mengingatkan kami dengan apa yang menjadi penyesalan Imam Asy-Syafi’i  rahimahullahu kepada kelalaian umat Islam terhadap Ilmu medis sehingga beliau berkata,
ضَيَّعُوا ثُلُثَ العِلْمِ وَوَكَلُوهُ إِلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى.
“Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga Ilmu dan meyerahkannya kepada umat Yahudi dan Nasrani.” [Siyar A’lam An-Nubala  Adz-Dzahabi 8/258, Darul Hadits, Koiro, 1427 H, Asy-Syamilah]

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Disempurnakan di Lombok, Pulau seribu Masjid
23 Shafar 1433 H bertepatan 17 Januari 2012
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel http//muslimafiyah.com

Sumber :
http://muslimafiyah.com/malprakrek-sudah-diatur-islam-sejak-dahulu.html

Rabu, 18 Januari 2012

Obesitas

Bismillahirrahmanirrahim

Tulisan ini saya ambil dari materi kuliah salah satu dosen di FK UNS pada blok Metabolisme yaitu Dr. Sugiarto dr, SpPD,FINASIM

Kegemukan atau obesitas merupakan salah satu petanda adanya penyakit. Data epidemiologi menunjukkan bahwa obesitas menimbulkan berbagai macam komplikasi dan penyakit degenerative. Obesitas terjadi akibat keseimbangan energy positif, artinya masukan kalori melebihi pengeluaran kalori tubuh.

Definisi
Obesitas adalah suatu kondisi metabolik kronik yang mempunyai peran penting dalam kesehatan masyarakat. Pada dewasa obesitas didefenisikan sebagai indeks massa tubuh (IMT) > 30 kg/m2 (IMT = berat badan (kg)/tinggi badan2 (m2)). Normal = 20-25 kg/m2  ; berlebih = 25-30 kg/m2  ; obesitas > 30 kg/m2 .
Cara yang paling baik untuk memperkirakan obesitas pada praktis klinik adalah dengan mengukur lingkar pinggang. Pengukuran lingkar pinggang merupakan cara untuk mengetahui kelebihan lemak pada abdominal, yang berhubungan dengan faktor resiko metabolik. Lemak abdominal terdapat pada dua tempat yaitu subkutan dan viseral. Lemak viseral terdapat pada omentum dan mesenterium. Beberapa peneliti mempercayai bahwa lemak viseral atau obesitas viseral lebih kuat berhubungan dengan faktor risiko metabolik dari pada ditempat lain.

Etiologi
    Berat badan seseorang ditentukan oleh keseimbangan masukan kalori dan energi ekspenditur. Jika masukan kalori melebihi dari pembakaran atau metabolisme mengakibatkan peningkatan berat badan. Kelebihan energi dalam tubuh manusia disimpan dalam jaringan adiposity atau jaringan lemak tubuh. Umumnya penyebab tersering adalah kelebihan masukan makan dan kurangnya aktifitas fisik.  Obesitas merupakan penyakit kronik yang disebabkan multifaktorial sebagai interaksi antara factor genetic, lingkungan, perilaku, cultural dan metabolic.
Beberapa factor yang berkontribusi terhadap obesitas adalah :
1.Genetik         :
Efek genetic bersifat kompleks dan poligenik dengan kemungkinan diturunkan 20-40%.  Factor genetic mempunyai peran terhadap metabolism basal, distribusi lemak tubuh dan respon terhadap kenaikan berat badan. Obesitas biasanya berhubungan dengan mutasi dari gen leptin dan PPAR-.  Contoh gen yang menyebabkan obesitas adalah leptin defisiensi. Leptin merupakan hormone yang diproduksi oleh adiposit dan placenta. Leptin mengontrol berat badan melaui rangsangan otak terhadap rangsang makan. Jika seseorang di dalam tubuh tidak cukup leptin atau rangsangan leptin terhadap otak kurang, mengakibatkan control terhadap rasa lapar terhambat, selanjutnya mengakibatkan obesitas. Obesitas lebih sering terjadi bila salah satu atau kedua orang tuanya obese.

2.Kelebihan makan :
kelebihan makanan menyebabkan peningkatan berat badan terutama jika diit tinggi lemak. Makanan tinggi lemak atau gula (seperti fast food, fried food dan sweets ) mempunyai densitas tinggi( makanan-makanan yang mempunyai sedikit kalori, tetapi jumlahnya banyak). Penelitian epedemiologi memperlihatkan bahwa diit tinggi lemak berkontribusi terhadap peningkatan berat badan.

3.Diit tinggi karbohidrat sederhana :
Peranan karbohidarat terhadap peningkatan berat badan tidak jelas. Karbohidrat meningkatkan kadar glukosa darah, selanjutnya merangsang pelepasan insulin oleh pancreas dan insulin memacu pertumbuhan jaringan adiposity dan menyebabkan peningkatan berat badan. Karbohidrat sederhana seperti glukosa, fruktosa, desserts, soft drink, beer, wine dll, berkontribusi terhadap peningkatan berat badan dan lebih banyak dilepaskan insulin dari pada makanan yang mengandung karbohidrat komplek. Peningkatan insulin atau hiperinsulinemia berperan terhadap peningkatan berat badan.

4.Frekuensi makan :
Hubungan antara frekuensi makan dan berat badan masih kontroversi. Beberapa laporan bahwa orang dengan overweight frekuensi makan kurang dibanding orang dengan berat badan normal. Beberapa ahli mengamati orang yang makan sehari antara 4 sampai 5 kali sehari , mempunyai kadar kolesterol dan glukosa lebih rendah dari pada orang yang makan 2 atau 3 kali sehari.

5.Metabolisme rendah:
Wanita mempunyai otot lebih sedikit dari pada laki-laki. Hasil metabolisme otot lebih banyak menghasilkan kalori dari pada jaringan lain seperti jaringan adiposity. Akibatnya pada wanita metabolisme lebih rendah dari pada laki-laki, selanjutnya kecenderungan terjadi peningkatan berat badan lebih banyak.

6.Kurangnya aktifitas fisik :
seseorang yang diam metabolismenya lebih rendah dari pada seseorang yang aktifitas. Survey dari National Health and Nutrition Examination Survey (NHANES) memperlihatkan bahwa inaktifitas berkorelasi kuat terhadap peningkatan berat badan.

7.Obat-obatan :
obat-obatan yang berhubungan dengan peningkatan berat badan adalah antidepresan, antikonvulsi, anti diabetic (insulin, sulfonylurea dan thiazolidinediones), kontrasepsi oral, kortikosteroid, antihipertensi dan anti histamine.

8.Lingkungan        :
Lingkungan berperan terhadap peningkatan prevalensi obesitas yang disebabkan oleh penurunan energi dan perubahan pola hidup terutama  yang berhubungan dengan makanan yang mengandung lemak tinggi, tinggi kalori, serta jarang berolahraga. Peningakatan prevalensi obesitas dalam suatu penelitian berhubungan dengan kekerapan melihat televisi. Masukan makanan dan aktivitas fisik sangat berperan terhadap peningkatan obesitas pada dewasa.

9.Neuroendokrin     :
neuropeptida Y (hormone hipotalamus yang merangsang nafsu makan) dan leptin (hormon peptide yang disintesa di jaringan lemak yang bekerja di hipotalamus untuk menekan asupan makanan dan pengeluaran energi) , bekerja sama dengan neurotransmitter lain, mengatur keseimbangan energi. Mutasi dari reseptor dan transmitter berhubungan dengan obesitas pada tikus percobaan dan beberapa kasus obesitas berat yang jarang pada manusia.

10.Factor psikologi :
Geajala stres seperti cemas, depresi, distress, sekresi kortisol akan mempengaruhi kebiasaan makan dan mengakibatkan overweight dan obesitas.

Patofisiologi

Obesitas terjadi akibat ketidak seimbangan antara metabolism dan penyimpanan lemak tubuh, Organ utama yang mengatur system tersebut adalah otak.  Otak mengatur bagaimana siknal sirkulasi yang berhubungan dengan ukuran masa lemak ( siknal adiposity) yang diitegrasikan dengan siknal dari system gastro intestinal (siknal kenyang ) terhadap control homeostasis energy. Siknal adiposity masuk ke otak pada tingkat hypothalamus. Siknal neural dari system gastrointestinal dan liver menginformasikan makanan yang masuk. Selanjutnya siknal kenyang dikirim ke otak. Otak menerima respon dari siknal hormonal melalui jalur neuropeptide, selanjutnya memberikan keluaran langsung ke homeostasis energy. Termasuk aktivasi neuroendokrin, kebiasaan motorik dan aktifitas  autonom.

Jaringan adiposit merupakan organ endokrin, eksokrin dan autokrine yang mengatur proses proses fisiologi dan patologis. Stress organ reticulum endoplasmic berperan terhadap metabolisme dan disfungsi adiposit. Stress reticulum endoplasmic menyebabkan ketidak seimbangan adipositokin yang disekresi oleh adiposity. Jaringan adiposity mensekresi beberapa bahan aktif yang disebut adipositokin.   Bahan aktif yang disekresi oleh adiposity adalah leptin, adipsin, adiponectin, resistin, tumor necrosis factor-  (TNF- ), transforming growth factor-T(GF-), vascular endothelial growth factor (VEGF), Interleukin-6 (IL-6), angiotensinogen, apoliproprotein-E, plasminogen activating inhibitor-1 (PAI-1), tissue factor dll. Bahan bahan bioaktif inilah yang menentukan patofisiologi terhadap beberapa penyakit yang berhubungan dengan obesitas.

Adipokine mempunyai peran terhadap resistensi insulin, produksi lipoprotein liver dan inflamasi vaskuler. Hormone leptin dan adiponectin oleh adiposity berhubungan dengan peningkatan subinflamasi kronik terutama berperan terhadap komplikasi resistensi insulin dan kardiovaskuler. Adiponectin dan leptin merupakan biomaker terhadap prediksi baik terhadap kejadian dan keberhasilan intervensi terhadap penyakit kardiovaskuler. Kadar adiponectin menurun pada diebetes mellitus tipe 2 dan penyakit kardiovaskuler, sebaliknya leptin kadarnya meningktan pada kedua penyakit tersebut. Peningkatan kadar leptin berhubungan dengan pembentukan atherosklerosis, sehingga pemeriksaan terhadap leptin dapat dipakai sebagai prediksi terhadap penyakit kardiovaskuler.
Disfungsi jaringan adiposit berperan terhadap resistensi insulin yang diakibatkan oleh hipertropi dan hiperplasi adiposity, kurangnya aliran darah, hipoksia, inflamasi dan infiltrasi makrofag pada jaringan adiposity.

Jalur molekuler yang mengatur obesitas
Gen obesitas yang mengatur sistem fisiologi terhadap peningkatan berat badan adalah :
1.    Hormon leptin.
Leptin merupakan salah satu hormon yang disekresi oleh jaringan lemak atau adiposit yang berefek pada jaringan sistem saraf pusat yang mengatur pola makan dan keseimbangan energi tubuh. Dalam keadan normal leptin menghambat nafsu makan dengan menekan neuropeptide Y. Peningkatan leptin akan meningkatkan nafsu makan sehingga meningkatkan energi ekspenditur yang akan meningkatkan timbunan lemak viseral.
a.    Merupakan hormon yang diproduksi oleh jaringan adiposit
b.    Merupakan gen yang mengatur neuropeptide.
c.  Neurotransmitters neuropeptide Y yang merangsang masukan makanan  dan melanocyte stimulating hormon menurunkan masukan makanan.
2.    Peroxisome proliferator activated receptor- (PPAR-).
       Merupakan gen yang mengatur thermoregulasi
3.    Ghrelin.
a.    Merupakan gen yang meningkatkan berat badan.
b.    Hormon ini disintesis oleh gaster yang merangasang masukan makanan pada manusia.
c.    Dalam keadaan normal  hormon ini didalam palsma meningkat setelah puasa dan menurun setelah diberi makan.

Penilaian pasien obesitas
    Untuk menilai status obesitas diukur dengan menghitung body mass index (BMI) atau indeks masa tubuh (IMT). BMI antara 25,9 – 29 disebut overweight, sebaliknya BMI ≥ 30 disebut obese. IMT berhubungan dengan lemak tubuh. Beberapa metode untum menilai lemak tubuh adalah dengan mengukur ketebalan kulit, lingkar pinggang, rasio lingkar pinggang / panggul, under water weighing, DEXA ( Dual energy X ray absorptiometry), BIA ( Bioelectric Impedance analysis ) ultrasonografi, computed tomografi dan magnetic resonace imaging (MRI).
Penilaian klinis pada pasien obesitas meliputi    :
•    Memastikan obesitas dengan menghitung IMT dan menilai pola distribusi lemak tubuh: obesitas setripetal (rasio pinggang/panggul , > 0,9 pada wanita, > 1,0 pada pria) berhubungan dengan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.
•    Perjalanan obesitas menurut waktu: apakah obesitas baru terjadi atau sudah lama, pernah atau tudaknya dilakukan tindakan terapi untuk obesitas dan riwayat keluarga. Penjelasan obesitas juga bisa didapatkan dengan mengetahui kebiasaan makan dan aktivitas fisik.
•    Penyebab sekunder: sangat jarang tapi harus dicari jika baru-baru ini (kurang beberapa tahun lalu) pernah ada kenaikan berat badan tanpa penyebab yang jelas, dan/ atau jika ada tanda fisik atau hasil tes biokimiawi yang abnormal. Penyebab timbulnya obesitas di antaranya adalah sindrom Cushing ( kortisol bebas dalam urin 24 jam), hipotiroidisme (TSH), gangguan hipotalamus (nafsu makan tidak terkendali), sindrom Prader-Willi (delesi lengan panjang dari kromosom 15, menyebabkan hipogonadisme dan obesitas) atau sindrom Lawrence-Moon-Biedl.
•    Penilaian risiko kardiovaskular keseluruhan: dari glukosa puasa profil lipid serta adanya kelainan vascular.

Pemeriksaan klinis obesitas
1. Pemeriksaan fisik
•    Status gizi ( berat badan, tinggi badan, lingkar pinggang)
•    Tekanan darah.
•    Kardiovaskuler.
•    Respirasi.
•    Gastrointestinal.
•    Musculoskeletal.
•    Kulit.
•    Endokrin dan metabolic.

2. Pemeriksaan laboratorium.
•    Darah rutin.
•    Glukosa puasa.
•    Profil lipid ( kolesterol total, LDL-kolesterol, HDL-kolesterol, trigliserid).
•    Asam urat.
•    Serum TSH dan FT4.
•    Free cortisol urin 24 jam.
•    Elektrokardiografi dan rongent thorak.
•    Tes fungsi respirasi.
•    Plasma leptin.

Beberapa risiko obesitas adalah :
1.    Gangguan Metabolic:
Resistensi insulin dan hiperinsulinemia merupakan gannguan metabolik akibat obesitas. Insulin merupakan hormon yang dikeluarkan oleh sel beta pancreas. Insulin mempunyai fungsi untuk tranport glukosa darah ke dalam sel-sel otot, jaringan adiposit, sel hepar. Insulin juga mempunyai reseptor di setiap sel pada tubuh manusia. Resistensi insulin terjadi bila kemampuan reseptor insulin untuk memasukkan glukosa ke dalam sel mengalami hambatan, sebagai akibatnya terjadi peningkatan kadar glukosa didalam darah atau hiperglikemia. Pada obsitas dalam jangka pajang dapat menyebabkan resistensi insulin. Akibat resistensi insulin pada penderita obesitas dalam perjalanan penyakit akan mengakibatkan terjadinya penyakit prediabetes, sindroma metabolik dan diabetes mellitus tipe 2. Hiperinsulinemia merupakan mekanisme kompensasi akibat peningkatan glukosa darah pada obesitas. Hiperinsulinemia terjadi untuk mempertahankan kadar glukosa darah supaya dalam ukuran normal. Apabila mekanisme kompensasi mengalami kekelahan maka terjadi penurunan insulin sehingga terjadi defisiensi insulin yang mengakibatkan menjadi kurus.
2.    Risiko penyakit jantung koroner :
Atherosklerosis merupakan faktor yang berperan penting terhadap penyakit jantung koroner. Adanya atherosklerosis pada pembuluh darah jantung berakibat terjadinya serangan jantung mendadak. Obesitas merupakan faktor risiko terjadinya atherosklerosis. Serangan jantung atau penyakit jantung iskemik (risiko meningkat empat kali lipat jika IMT > 29, penelitian Finnish memperlihatkan bahwa setiap kenaikan 1 kg  risiko kematian meningkat 1 % ).

3.    Masalah fisik: osteoarthritis ( penyakit degeneratif), gout atau gout arthritis, varises pada vena, hernia (baik hernia hiatus maupun abdominal), hipoventilasi (apnea obstruktif saat tidur [OSA]), komplikasi akibat operasi.
4.    Risiko penyakit kanker:  payudara ( lemak merupakan jaringan yang memproduksi estrogen, paparan jangka panjang terhadap estrogen meningkatkan risiko kanker payudara), ovarium, endometrium, prostate, serviks, kolon dan empedu.


PENATALAKSANAAN

Prinsip penatalaksaan obesitas adalah keseimbangan energi menjadi negatif untuk menurunkan berat badan dan memelihara penurunan berat badan yang rendah selamanya. Keberhasilan penurunan berat badan menurut WHO adalah jika terjadi penurunan berat badan sebesar 5-15 % dari berat badan semula. Keberhasilan awal dapat diperlihatkan jika terjadi penurunan berat badan sebesar 10% selama 6 bulan pertama.
Keberhasilan dapat tercapai bila terdapat kepatuhan penderita tentang memelihara diit, aktivitas fisik dan terapi. Pendekatan untuk penatalaksaan obesitas meliputi : diit, aktivitas fisik, terapi obat dan pembedahan. Perubahan gaya hidup yang mencakup mengurangi alkohol, olahraga, dan terutama berhenti merokok juga berperan terhadap keberhasilan terapi.

A.Pendekatan Diit.
    Pengurangan asupan kalori antara 500-600 kcal/ hari dari 2100-2520 kcal/hari dapat menurunkan berat badan 0,5- 1 kg/minggu. Diit yang dianjurkan adalah diit rendah kalori dan rendah lemak.

Diit rendah kalori.
    Beberapa penelitian membuktikan bahwa keberhasilan penurunan berat badan berhubungan dengan retriksi masukan kalori dan bukan komposisi makronutrien. Dalam beberapa uji klinik pada obesitas didapatkan bahwa penurunan berat badan sebesar 8%  terjadi antara 3 -12 bulan dibandingkan kontrol. Penurunan kalori 400-500 kcla/hari dari 1680-2100 kcl/hari  akan menurunkan berat badan.

Diit rendah lemak.
    Retriksi masukan lemak mempunyai arti penting terhadap densitas energi dan total masukan energi. Beberpa uji klinik memperlihatkan penurunan berat badan sebesar 1,6 g/hari disebabkan oleh penurunan energi yang berasal dari lemak. Penurunan berat badan lebih sedikit pada diit rendah lemak sebesar 100-200 g/minggu dibanding 300-700 g/minggu.

B.Aktivitas fisik.
    Peningkatan aktivitas fisik pada pasien dewasa overweight dan obese meningkatkan kebugaran kardiorespirasi dan menurunkan resiko penyakit kardoivaskuler. Aktivitas fisik merupakan terapi tambahan untuk membantu penurunan dan memelihara berat badan bersama terapi diit.
    Kurangnya aktifitas fisik merupakan salah satu faktor penting dalam timbulnya obesitas.  Penurunan aktivitas fisik menyebabkan rendahnya tingkat kesegaran jasmani dengan berkurangnya kekuatan, tenaga aerobik dan ketrampilan atletik. Obesitas terjadi akibat masukan energi melebihi penggunaan energi untuk kepentingan metabolisme dan aktivitas fisik. Aktivitas fisik dapat diukur dengan dengan berbagai cara seperti doubly labeled water (DLW), kalorimetri indirek, monitoring denyut nadi (Heart rate), pedometer, akselerometer,  observasi langsung dan pengukur dengan adolecent physical activity questionnaire. Aktivitas fisik terutama latihan dapat memperbaiki kelenturan, kekuatan otot,daya tahan otot dan kesegaran kardiorespirasi.
    Aktivitas fisk akan mengubah komposisi tubuh yaitu menurunkan lemak tubuh baik total dan viseral serta meningkatkan masa tubuh tanpa lemak. Olah raga intensif selama 10 bulan dan pengatutan diit akan menurunkan lemak tubuh dan meningkatkan kesegaran jasmani.

C.Medikamentosa.
    Pasien dengan body mass index 30 kg/m2 berhubungan dengan komplikasi yang berhubungan dengan obesitas. Penatalaksanaan obesitas merupakan bagian dari diit dan aktivitas fisik. Respon terapi terhadap obat bervariasi. Jika terapi pada 4 minggu pertama tidak ada respon, disarankan obat jangan diteruskan. Semua obat harus dilanjutan hanya jika terdapat penurunan berat badan 0,5 kg/minggu. Kebanyakan obat hanya bekerja sementara.
Obat obat yang direkomendasikan oleh NICE (National Institute of Clinical Excellence ) adalah orlistat dan sibutramine. Orlistat menghambat lipase lambung dan pankreas, serta mengurangi absorpsi lemak. Dalam suatu penelitian terapi orlistat bersama perubahan polahidup selama 4 tahun dapat menurunkan berat badan, kejadian diabetes dan penyakit kardiovaskuler dibanding perubahan pola hidup saja. d Sibutramin (serotonin dan inhibitor ambilan-kembali noradrenalin) mempercepat rasa kenyang dan mengurangi asupan makanan. Sibutramin selain dapat menurunkan berat badan ternyata dapat memperbaiki profil lemak( triglisrerid, VLDL-kolesterol dan HDL-kolesterol). Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI), seperti fluoksetin dosis tinggi bisa membantu dengan efektif. Derivat amfetamin (dexfenfluramin, fenfluramin) dapat menekan nafsu makan, tapi telah ditarik dari peredaran karena efek samping (valvulopati jantung).  Pemakaian dua obat kombinasi tidak direkomendasikan.

D.Pembedahan.
Pembedahan terkadang diperlukan jika terapi diit, aktivitas fisik dan medikamentosa tidak berhasil. Pembedahan yang biasa dilakukan adalah gastric bypass, vertical banded gastroplasty dan gastric banding. Dibandingkan dengan terapi yang lain tidakan pembedaan cukup menghasilkan penurunan berat badan yang lama. Keberhasilan pembedahan sekitar 50%.