Kamis, 26 Januari 2012

Menuntut Ilmu Pada Seorang Dokter

 Bismillahirrahmanirrahim
 Semoga bisa jadi pelajaran bagi kita 

Bila ingat cita-citaku dimasa kecil, aku selalu berkata :”Aku mau jadi dokter”. Kepada setiap orang yang menanyakan mau jadi apa aku nanti setelah dewasa. Rasanya impian itu selalu aku bawa dalam tidur. Bermain bersama teman-temanpun kami lakukan seperti apa yang biasa dokter lakukan pada pasiennya.

Seorang dokter dapat selalu membantu orang yang sakit. Memberikan pelayanan gratis bagi orang yang tidak mampu. Sebagai gadis kecil, aku selalu beranggapan dokter adalah seorang yang sepesial. Berbaju putih, ramah dan menggunakan mobil kemanapun pergi. Dibandingkan dengan keadaanku saat itu, keluarga kami termasuk kurang sejahtera.

Begitu aku remaja, cita-cita untuk menjadi dokter sirna. Bukan karena cita-cita itu tenggelam, tapi menyadari kemampuan ekonomi kami yang serba kekurangan. Masih untung dapat sekolah sampai SMU, karena esok harinya masih dipertanyakan, “Apakah esok masih ada makanan untuk kami?”

Setelah menikah dan punya 3 orang anak laki-laki, mulailah kembali aku berkenalan dengan dokter. Kami punya langganan seorang dokter spesialis anak, namanya dr. Suryantini.
Setiap kami berkunjung untuk konsultasi atau berobat, maka kesempatan itu aku pakai untuk berbincang-bincang kepada dokter tersebut. Beliau punya satu anak laki-laki, yang bersekolah di Jawa.
Selama ini aku selalu memandang, bahwa dokter itu enak. Pasien di tempat prakteknya sangat banyak. Aku pun menghitung untuk satu pasien Rp. 60.000,-, jika ada 30 pasien berapa pendapatnnya satu bulan.

Pagi pun berkeliling dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Untuk sekali kunjungan dibayar sekian rupiah. Sehingga aku memperkirakan sekian juta pendapatan dokter untuk satu bulannya. Dibandingkan suamiku, dokter tersebut mendapatkan 10 kali lipat dari pendapatan suamiku per bulannya. ( ini hanya menurut perkiraanku .)

Dokter langganan keluarga kami itu, sebenarnya sangat berjasa besar pada keluargaku terutama pada anak-anakku. Bila mereka sakit, aku selalu menemui beliau. Jika beliau ke luar kota, aku pun tidak segan menelponnya untuk meminta bantuannya. Kami berhubungan kurang lebih 6 tahun. Orangnya ramah, agak tegas. Jika ada orangtua yang kurang memperhatikan kesehatan anaknya, dokter tersebut tidak akan sungkan untuk memarahi.

Setiap kunjungan, seringkali beliau memberikan info-info kesehatan tanpa disadarinya. Misalkan: Jika anak-anak baru panas sehari, jangan langsung diberian obat. Tapi harus banyak diberikan minum dan istirahat yang cukup: Sering batuk-batuk di malam hari, itu bertanda batuknya sesak dan harus segera di bawa kedokter untuk ditangani. Jangan sampai susah bernapas baru ke dokter. Akibatnya bisa fatal: Anak yang hiperaktif adalah anak yang tidak bisa diam lebih dari 5 menit: Atau hal lainnya yang sangat bermanfaat bagi kami.

Kalau menurut saya, pergi ke dokter merupakan saat untuk belajar tentang berbagai penyakit dan ciri-ciri penyakit yang harus diwaspadai. Jadi bukan hanya datang untuk mengobati penyakit, tapi juga menambah ilmu. Sesuai dengan hadits Rasulullah S.A.W: Menuntut ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki maupun perempuan: Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat.”

Ilmu itu tidak harus hanya tentang agama, tapi juga tentang semua hal. Apakah itu tumbuhan, masak-memasak atau belajar mendidik anakpun perlu ilmu. Setiap saat kita memerlukan ilmu untuk mengelola keadaan kita, agar kita mampu dan cerdas menyikapi persoalan apapun yang kita hadapi.
Maka benarlah jika didalam Al-Qur’an di beritahukan : Maka apakah sama orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu?

Kembali ke dokter, dokter yang aku kagumi itu banyak menyimpan kepedihan. Beliau bercerita bahwa ada banyak sekali pasien yang datang kepadanya, baik itu yang penyakitnya masih ringan ataupun sudah parah, marah kepadanya dengan berbagai alasan menyatakan ketidak puasan atas pengobatan yang diberikan dokter.. Padahal seringkali beliau menomor duakan keluarganya, karena ada pasien gawat yang tidak boleh ditinggal. Aku merasa terenyuh mendengar curhatnya. Waktu yang dimilikinya sebagian besar untuk pasiennya.

Bayangkan, walaupun dalam keadaan tidur, beliau masih menerima telepon darurat! Keluar kotapun beliau tetap dapat dihubungi. Aku sesungguhnya kasihan padanya. Jika dibandingkan denganku, waktuku sebagian besar untuk keluargaku.

Orang tuanya sakit keras di Jawa, tapi beliau hanya menungguinya satu minggu. Pasiennya banyak menantikan pertolongannya. Dilema yang dialaminya sungguh berat, antara bakti kepada orangtua atau melayani masyarakat. Jadi tidak salah ketika pada suatu kesempatan beliau mengatakan :”Jika orang tahu bagaimana sibuknya kita menjadi seorang dokter, tentu tidak ada yang mau anaknya menjadi dokter!”.

Sang dokter juga menceritakan keharuannya, ketika ada seorang bapak yang datang membawa hasil kebunnya, berupa jagung. Bapak tersebut mengucapkan terima kasih atas bantuan dokter tersebut. Bapak tersebut menyatakan hanya jagung yang dapat diberikannya, karena dia hanya seorang petani.
Begitulah dalam hidup. Seringkali kita kecewa dengan pelayanan seseorang, karena kita merasa telah membayar sejumlah uang. Padahal sebagai seorang muslim yang baik, tentunya kita harus berbicara yang ma’ruf atau diam.

Hargailah usaha seseorang untuk menolong kita, bagaimanapun hasilnya. Karena Allah pun menilai hambanya dari usahanya, bukan hasil akhir dari usahanya tersebut.
 Sumber: Eramuslim

Motivasi

Bismillahirrahmanirrahim
"Orang yang sukses bukan orang yang tak pernah mengalami kegagalan. Orang yang sukses adalah orang yang selalu belajar dari kegagalannya"
 Tetap semangat kawan! Ketika engkau gagal bukan berarti Allah tak sayang kepadamu. Saat itulah Allah mengajarimu untuk memahami arti sebuah kesungguhan usaha dan kekuatan do'a. Engkau perlu muhasabah (instropeksi diri) apa yang menyebabkan kegagalanmu itu. Mungkin terlalu sombong, kurang mendekatkan diri kepadaNya, kurang sungguh-sungguh dalam belajar selama ini, kurang berbakti pada ortu.
"SEMANGAT! Luruskan NIAT KARENA ALLAH! SUNGGUH-SUNGGUH! FOKUS! Perbanyak DO'A! Semoga ke depannya lebih baik lagi. Amin ya Rabb"
*sedang berusaha memotivasi diri-sendiri dan membangkitkan semangat untuk berjuang menjadi lebih baik lagi :)
Bismillah semoga Allah meridhai jalanku ini

Rabu, 25 Januari 2012

tumblr

follow me on tumblr

beautiful love multitalented

follow AXON on tumblr

 AXON

thanks :)

Titip Rindu Buat Ayah

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...
Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia

Ayah, dalam hening sepi kurindu

untuk menuai padi milik kita
Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia 


from: Titip Rindu Buat Ayah by Ebiet G Ade

Hak Seorang Muslim Atas Muslim Lainnya

Bismillahirrahmanirrahim


Oleh: Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullaah

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata:
أَنَّ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُوْلَ الله قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهُ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ.
“Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.” Dikatakan kepada beliau: ‘Apakah hak-hak itu, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Kalau kamu bertemu dengannya hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Kalau dia mengundangmu maka sambutlah (penuhilah). Dan kalau dia minta nasehatmu, maka berilah nasehat. Dan kalau dia bersin lalu memuji Allah ‘Azza wa Jalla, maka doakanlah (Semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmatimu). Dan kalau dia sakit, maka jenguklah dan kalau dia meninggal dunia, maka antarkanlah jenazahnya.’” (HR. Muslim)

Syarah
Siapapun yang telah menjalankan keenam hak ini sebagai hak setiap muslim, jika disertai pelaksanaan yang ada di luar ini (dari hak-hak sesama muslim) tentulah lebih utama. Berarti dia telah melaksanakan kewajiban yang dibebankan kepadanya berikut hak-hak yang di dalamnya terdapat banyak kebaikan dan pahala yang besar dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Hak yang pertama: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْه (Kalau kamu bertemu dengannya hendaklah mengucapkan salam kepadanya). Karena (ucapan) salâm adalah salah satu sebab yang menumbuhkan kecintaan, mendorong munculnya iman, dan menyebabkan seseorang masuk ke dalam surga sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
والَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لاَ تَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوْا وَلاَ تُؤْمِنُوْا حَتَّى تَحَابُّوْا أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوْهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلاَمَ بَيْنَكُمْ.
“Demi Allah ‘Azza wa Jalla Yang jiwaku ada di tangan-Nya. Kalian tidak akan masuk ke dalam surga hingga kalian beriman. Dan kalian tidaklah beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai?” (Yaitu): “Sebarkan (ucapan) salam.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)
(Ucapan) salam adalah salah satu keindahan (ajaran) Islam, karena (dengan mengucapkannya) setiap orang yang berjumpa mendoakan keselamatan dari semua kejahatan (keburukan) bagi yang lain, sekaligus mendoakan agar mendapat rahmat dan berkah yang mendatangkan berbagai kebaikan. Apalagi diiringi dengan kecerahan wajah dan penghormatan yang sesuai sehingga semakin menumbuhkan keakraban dan kasih sayang, serta menghilangkan keterasingan dan putusnya hubungan (persaudaraan).
(Ucapan) salam adalah hak setiap muslim. Dan wajib atas yang diberi salam membalas penghormatan itu dengan penghormatan yang sama atau yang lebih baik. Sedangkan orang yang paling baik adalah yang lebih dahulu mengucapkan salam.

Hak kedua: وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ (Kalau dia mengundangmu maka penuhilah undangannya). Artinya, kalau dia mengundangmu makan-makan atau minum, maka senangkanlah hati saudaramu yang telah berbuat baik kepadamu dan menghormatimu dengan undangan itu dan penuhilah undangan itu kecuali kalau mempunyai udzur.

Hak ketiga: وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ (Dan kalau dia meminta nasehatmu, maka berilah nasehat). Yakni, kalau dia meminta saranmu untuk mengerjakan sesuatu, apakah boleh dilakukan atau tidak? Maka, nasehatilah dengan sesuatu yang sebetulnya kamu cintai untuk dirimu. Bila hal itu bermanfaat dari semua sisi, maka doronglah dia untuk mengerjakannya. Kalau sebaliknya, maka peringatkanlah agar menjauhinya. Apabila dalam masalah itu ada manfaat dan mudharat-nya, maka jelaskanlah kepadanya persoalan tersebut. Pertimbangkanlah dengan seksama antara maslahat dan mafsadah­-nya. Demikian pula, bila dia meminta saranmu untuk bermuamalah dengan seseorang, menikahkan atau dia sendiri hendak menikah, maka curahkanlah keseriusanmu dalam berbuat ikhlas menasehatinya. Upayakanlah pendapat atau saran itu juga kamu laksanakan. Jauhilah sikap khianat dalam semua persoalan ini. Karena barangsiapa yang mengkhianati kaum muslimin, berarti dia bukan dari golongan mereka. Dan itu artinya dia telah meninggalkan kewajibannya dalam memberi nasehat.
Nasehat itu wajib secara mutlak. Akan tetapi, semakin kuat apabila ada yang meminta nasehat, saran atau pendapatmu. Oleh karena itu, dalam keadaan seperti ini nasehat dibatasi dengan sesuatu yang menguatkan kewajiban tersebut.
Perhatikan kembali pengertian hadits (yang ketiga): الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ (Agama (Islam) itu nasehat), sehingga tidak perlu dijelaskan lagi.

Hak keempat: وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهُ فَسَمِّتْهُ (Dan kalau dia bersin lalu memuji Allah ‘Azza wa Jalla, maka doakanlah), karena bersin adalah nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan keluarnya udara yang tertahan dalam sebagian tubuh manusia, Allah ‘Azza wa Jalla mudahkan dia keluar sehingga orang yang bersin dapat merasa lega. Oleh sebab itu, disyari’atkanlah untuk memuji Allah ‘Azza wa Jalla atas kenikmatan itu. Disyari’atkan atas saudaranya yang mendengar agar mengucapkan: يَرْحَمُكَ اللهُ (Semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmatimu). Kemudian, dianjurkan untuk menjawabnya dengan: يَهْدِيْكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ (Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberi hidayah kepadamu dan memperbaiki keadaanmu).1
Adapun yang tidak memuji Allah ‘Azza wa Jalla (tidak mengucapkan الْحَمْدُ لِلَّهِ), maka tidak berhak didoakan. Oleh karena itu, janganlah mencela siapapun kecuali dirinya sendiri. Sebab, dia sendirilah yang melewatkan begitu saja dua kenikmatan tersebut, yakni nikmat memuji Allah ‘Azza wa Jalla dan nikmat (mendapat) doa saudaranya untuk dirinya sebagai buah dia memuji Allah ‘Azza wa Jalla.

Hak kelima: وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ (Dan kalau dia sakit, maka jenguklah). Menjenguk orang sakit termasuk hak seorang muslim, terutama bagi orang yang haknya lebih kuat seperti kerabat, sahabat dan yang semisalnya. Ini termasuk amalan shalih yang paling utama.
Barangsiapa yang menjenguk saudaranya sesama muslim, maka akan senantiasa berenang dalam rahmat Allah ‘Azza wa Jalla. Kalau duduk di dekat saudaranya itu, akan diliputi oleh rahmat Allâh ‘Azza wa Jalla. Barangsiapa mengunjunginya di awal siang, niscaya para malaikat bershalawat untuknya sampai sore hari dan barangsiapa mengunjungi di akhir siang, maka malaikat bershalawat untuknya hingga pagi hari.
Seyogyanya, orang yang membesuk mendoakan kesembuhan untuk saudaranya, meringankan bebannya, menenangkan pikirannya dengan hal-hal yang menyenangkan dan mendoakannya dengan doa ‘afiyah (kesembuhan). Mengingatkannya agar bertaubat, inabah (kembali) kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan wasiat lain yang bermanfaat. Jangan terlalu lama duduk (mengunjunginya), tetapi sekedarnya saja kecuali bila hal ini mempengaruhi si sakit. Masing-masing ada pembicaraannya tersendiri.

Hak keenam: وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ (dan kalau dia meninggal dunia, maka ikutilah jenazahnya). Barangsiapa mengikuti prosesi (penyelenggaraan) jenazah hingga dishalatkan, maka akan mendapat pahala satu qirath. Apabila mengikuti sampai dikuburkan, maka mendapat pahala dua qirath2. Dalam perkara ini terdapat hak Allah ‘Azza wa Jalla, hak jenazah dan hak keluarganya yang masih hidup. Wallahu a’lam.

Footnote:
1 HSR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.
2 Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, dikatakan satu qirath sebesar gunung Uhud. Wallahu a’lam.
(Dinukil dari بهجة القلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار (Mutiara Hikmah Penyejuk Hati, Syarah 99 Hadits Pilihan) karya Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Hadits ke-29: Hak Seorang Muslim, hal. 138-142, penerjemah: Abu Muhammad Harits Abrar Thalib, penerbit: Cahaya Tauhid Press Malang, cet. ke-1 Jumadil Ula 1427H/Juni 2006M, untuk http://almuslimah.co.nr)


sumber :